
Industri pengolahan kayu di Indonesia memiliki rantai produksi yang cukup luas, mulai dari pengelolaan bahan baku hingga menghasilkan produk untuk kebutuhan pasar domestik dan internasional. Salah satu perusahaan yang bergerak di bidang tersebut adalah PT Korindo Aria Bima Sari (KABS).
Perusahaan ini telah menjalankan kegiatan usahanya di Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, sejak 1979. Dalam perkembangannya, KABS membangun fasilitas manufaktur terintegrasi untuk menghasilkan produk kayu olahan dengan orientasi pasar ekspor.
Sejarah Korindo Aria Bima Sari
PT Korindo Aria Bima Sari resmi berdiri pada 10 Agustus 1979 berdasarkan persetujuan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). Pembangunan fasilitas industrinya kemudian berlangsung hingga April 1980.
Produksi percobaan pertama dilakukan pada Oktober 1980. Tidak lama setelah itu, KABS mulai melakukan ekspor plywood ke pasar internasional pada Desember 1980. Perjalanan tersebut menjadi bagian dari perkembangan perusahaan sebagai salah satu pelaku industri pengolahan kayu di Indonesia.
Pada 1992, perusahaan melakukan ekspansi dan memperluas lini produksinya. Selain kayu lapis, kegiatan tersebut mencakup produksi veneer, film faced dan Urethane Coating Panel (UCP). Perkembangan lini produk ini memungkinkan perusahaan melayani kebutuhan yang lebih beragam dari pasar kayu olahan.
Lokasi dan Kegiatan Operasional
Fasilitas manufaktur KABS berada di Desa Mendawai, Kecamatan Arut Selatan, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Lokasi tersebut menjadi pusat kegiatan produksi perusahaan, sedangkan kantor pusatnya berada di Wisma Korindo, Jakarta Selatan.
Kegiatan perusahaan berfokus pada pengolahan bahan baku kayu menjadi berbagai produk yang memiliki nilai tambah. Dengan fasilitas yang terintegrasi, proses produksi dapat dilakukan dalam satu rangkaian operasional yang mencakup pengelolaan bahan baku hingga menghasilkan produk jadi.
Posisi perusahaan di Kotawaringin Barat juga membuat aspek logistik menjadi bagian penting dalam kegiatan operasional. KABS menyebut distribusi bahan baku log dilakukan melalui jalur perairan Daerah Aliran Sungai (DAS) Arut sebagai bagian dari sistem pengadaan dan distribusi bahan bakunya.
Produk yang Dihasilkan KABS
Produk utama yang ditawarkan KABS berkaitan dengan kebutuhan industri berbasis kayu. Salah satu produk utamanya adalah plywood atau kayu lapis yang diproduksi untuk kebutuhan pasar dengan standar kualitas ekspor.
Selain plywood, perusahaan juga memiliki lini produk Tego Film dan Urethane Coating Panel (UCP). Keberadaan beberapa lini tersebut menunjukkan bahwa kegiatan manufaktur KABS tidak hanya berfokus pada satu jenis produk kayu olahan.
Produk kayu lapis sendiri memiliki berbagai penggunaan dalam industri. Karakteristik dan spesifikasi produk dapat disesuaikan dengan kebutuhan aplikasi, sehingga kualitas bahan baku dan konsistensi proses produksi menjadi faktor penting dalam memenuhi permintaan pelanggan.
Jangkauan Pasar Internasional
Sejak melakukan ekspor perdana pada 1980, kegiatan perdagangan KABS telah berkembang hingga menjangkau sejumlah pasar internasional. Situs resmi perusahaan mencantumkan beberapa negara tujuan, antara lain Jepang, Korea Selatan, India, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Oman, Belgia dan Belanda.
Orientasi ekspor tersebut membuat perusahaan perlu memperhatikan kualitas produk sekaligus persyaratan yang berlaku di pasar tujuan. Konsistensi produksi, ketertelusuran bahan baku serta pemenuhan standar menjadi bagian yang berkaitan dengan keberlangsungan rantai pasok.
Baca juga : Peran Plywood Sebagai Material dalam Industri Konstruksi
Komitmen terhadap Keberlanjutan
Industri kayu memiliki hubungan erat dengan isu pengelolaan sumber daya hutan. Oleh karena itu, aspek keberlanjutan menjadi salah satu bagian yang diperhatikan KABS dalam kegiatan operasionalnya.
Perusahaan menyatakan menerapkan prinsip lingkungan, sosial dan tata kelola atau ESG dalam kegiatan manufaktur. KABS juga mencantumkan sertifikasi PEFC dan SVLK sebagai bagian dari sistem pengelolaan hasil hutan dan legalitas bahan bakunya. Selain itu, perusahaan menyebut penerapan kebijakan nol-deforestasi dan proses uji tuntas dalam rantai pasok.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan industri kayu tidak hanya berkaitan dengan kapasitas produksi. Asal bahan baku, proses pengadaan dan kemampuan menelusuri material juga menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan kegiatan usaha.
Kontribusi bagi Masyarakat Sekitar
Kegiatan perusahaan juga berkaitan dengan masyarakat di sekitar wilayah operasionalnya. Melalui program Corporate Social Contribution (CSC), KABS menyebut sejumlah bidang yang menjadi fokus seperti infrastruktur, pendidikan, kesehatan serta pemberdayaan ekonomi lokal.
Program tersebut mencakup dukungan material dan pendanaan untuk fasilitas umum, bantuan bagi lembaga pendidikan, dukungan kesehatan hingga stimulus bagi pelaku UMKM. Dengan demikian, aktivitas perusahaan tidak hanya diarahkan pada kegiatan manufaktur, tetapi juga mencakup kontribusi terhadap lingkungan sosial di sekitar fasilitas operasional.
Mengenal Peran KABS di Industri Kayu
Perjalanan PT Korindo Aria Bima Sari menunjukkan perkembangan sebuah perusahaan pengolahan kayu yang telah beroperasi selama beberapa dekade. Dari produksi plywood dan ekspor perdana pada 1980, perusahaan terus mengembangkan lini produk serta sistem manufakturnya untuk memenuhi kebutuhan pasar.
Di tengah meningkatnya perhatian terhadap legalitas, ketertelusuran dan keberlanjutan produk kayu, aspek tersebut menjadi bagian penting dari perkembangan industri. Bagi KABS, pengelolaan bahan baku, standar produksi, orientasi ekspor dan kontribusi sosial menjadi unsur yang berjalan berdampingan dalam menjalankan kegiatan usahanya.
